BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pengembangan
kurikulum sangatlah diperlukan untuk perkembangan pendidikan,di zaman modern
seperti sekarang ini, pendidikan mempunyai peran yang sangat penting bagi
manusia. Pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri yang ada.
Pendidikan juga tidak lepas dari kurikulum. Karena kurikulum itu sebagai
pondasi bagi pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan
baik dan efisien.
Kurikulum dapat dipandang sebagai
suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan,
kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita ketahui bahwa
pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke lingkungan masyarakat.
Pendidikan bukan hanya sekedar
pembelajaran, tetapi lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan
serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut
di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik
formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi
kehidupan dalam masyarakat pula.
Kehidupan masyarakat, dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi
kurikulum atau lebih kompleksnya lagi bagi pendidikan.Dengan pendidikan, kita
tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang asing terhadap
masyarakat-masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu, mengerti, dan
mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses
pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan, dan
perkembangan masyarakat tersebut.Pengembangan kurikulum, agar dapat berhasil
sesuai dengan yang diinginkan, maka diperlukan adanya landasan-landasan
pengembangan kurikulum yang akan menjadi pondasi bagi penyusunan sebuah
kurikulum.
Setiap manusia pasti berkembang, begitu pula
dengan kurikulum. Untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang mempunyai
kebutuhan berbeda setiap zamannya. Kurikulum akan selalu berkembang
agar dapat memenuhi kebutuhan suatu lembaga. Ketika kurikulum tidak
dikembangkan sesuai dengan meningkatnya kebutuhan suatu lembaga, maka lembaga
itu akan mengalami ketertinggalan. Tetapi untuk mengembangkan kurikulum, tidak
hanya dirancang sesuai keinginan para pengelola lembaga tertentu, melainkan
harus memperhatikan beberapa aspek pengembangan kurikulum, yaitu: landasan sosiologis, landasan antropologis,
landasan tekhnologis,
dan andasan Religius.
Pengembangan kurikulum menurut
Dimyati dan Mudjiono mengacu pada tiga unsur, yaitu, nilai dasar yang merupakan
falsafah dalam pendidikan manusia seutuhnya, fakta empirik yang tercermin dari
pelaksanaan kurikulum, baik berdasarkan penilaian kurikulum, studi, maupun
survei lainnya, dan landasan teori yang menjadi arahan pengembangan dan
kerangka penyorotnya.
Program pendidikan disusun dan
dipengaruhi oleh nilai, masalah, kebutuhan,
tantangan, perkembangan tekhnolgi, letak wilayah, dan agam dalam
masyarakat sekitarnya. Ini berarti kurikulum disusun berlandaskan dasar
sosiologis, antropolois, tekhnologis dan religius yang akan menjadi pembahasan
dalam makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
landasan sosiologis kurikulum ?
2.
Bagimana
landasan antropologis kurikulum ?
3.
Bagaimana
landasan teknologis kurikulum ?
4.
Bagaimana
andasan religius kurikulum ?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui landasan sosiologis kurikulum
2.
Untuk
mengetahui landasan antropologis kurikulum
3.
Utuk
mengetahui landasan teknologi kurikulum
4.
Untuk
mengetahui andasan religious kurikulum
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Landasan
Sosiologi Kurikulum
1.
Definisi Sosiologi
Menurut Sukmadinata
(2007:124) Sosiologi adalah ilmu pengetahuan
yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar individu, antar
golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak
hidup sendiri, namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita
memiliki tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai
bakti kepada masyarakat yang telah memberikan jasanya kepada kita. Sedangkan Menurut Emile Durkheim bahwa
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta
yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar
individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan
individu.
Menurut
Pitirim Sorokin ( 2007 : 221) bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya
gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan
gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki
berbagai gejala sosial hubungan antar individu, antar golongan, antar lembaga
sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak hidup sendiri, namun
hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita memiliki tugas yang
harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bakti kepada masyarakat
yang telah memberikan jasanya kepada kita,
(
Arifin. 2006 : 54 ).
Dari
berbagai definisi para ahli sosiologi, dapat disimpulkan bahwa Sosiologi adalah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar
individu, antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Didalam
kehidupan kita tidak hidup sendiri, namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam
lingkungan itulah kita memiliki tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab sebagai bakti kepada masyarakat yang telah memberikan jasanya
kepada kita.
Tiap
masyarakat memiliki norma dan adat kebiasaan yang harus dipatuhi. Norma dan
adat kebiasaan tersebut memiliki corak nilai yang berbeda-beda, selain itu masing-masing
dari kita juga memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Hal inilah yang
menjadi pertimbangan dalam pengembangan sebuah kurikulum, termasuk perubahan
tatanan masyarakat akibat perkembangan IPTEK. Sehingga masyarakat dijadikan
salah satu asas dalam pengembangan kurikulum.
Secara
etimologi, landasan sosiologis pengembangan kurikulum tersusun dari empat kata,
yaitu “Landasan” yang mempunyai
arti alas, bantalan, dasar, dan
tumpuan.“Sosiologis”
mempunyai arti yang bersifat sosial
kemasyarakatan dan yang bersifat pengetahuan tentang sifat dan perkembangan
masyarakat, kata “Pengembangan”
yang mempunyai arti proses perubahan
menjadi lebih berkembang. Serta kata “Kurikulum” yang mempunyai arti perangkat mata pelajaran yang diajarkan lembaga pendidikan.Jadi
dapat kita tarik definisi landasan sosiologis pengembangan kurikulum secara
etimologi yaitu suatu landasan atau pijakan dalam menyusun sebuah kurikulum yang
mengacu pada aspek kemasyarakatan.
Secara
terminologi Landasan Sosiologis Pengembangan Kurikulum mempunyai arti asumsi-asumsi yang
berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum,
(Sukmadinata,2007
: 58).
Mengapa
pengembangan kurikulum harus mengacu pada landasan sosiologis? Mari kita
perhatikan pernyataan berikut, “Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan
pendidikan baik formal, informal, maupun non formal dalam lingkungan
masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan segala karakteristiknya harus
menjadi landasan dan titik tolak dalam melaksanakan kurikulum.
Berbicara mengenai landasan sosiologis sebuah
kurikulum, maka kita juga pasti akan sedikit banyak bersinggungan dengan
keadaan sosial, masyarakat dan budaya. Karena faktanya, budaya tidak bisa
dilepaskan dari aspek sosial kemasyarakatan. Budaya merupakan hasil dari
interaksi sosial yang terjadi melalui ide-ide yang mucul dari sebuah komunitas
manusia, (Hasin, 2013 : 76).
Para pengembang kurikulum itu sendiri memiliki tugas
untuk mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat sebagaimana dirumuskan
dalam undang- undang, peraturan, keputusan pemerintah dan lain-lain, menganalisis masyarakat dimana sekolah berada,
menganalisis syarat dan tuntutan terhadap tenaga kerja, serta menginterpretasi
kebutuhan individu dalam ruang lingkup kepentingan masyarakat.
2.
Hubungan Sosiologi dengan Kurikulum
Sosiologi
adalah suatu ilmu pengetahuan yang memiliki lapangan penyelidikan, sudut
pandang, metode, serta sususan pengetahuan dan objeknya adalah tingkah laku
manusia dalam kelompok. Sedangkan kurikulum adalah situasi kelompok yang
tersedia bagi guru dan pengurus sekolah (administrator) untuk membuat tingkah
laku yang berubah di dalam arus yang tidak putus-putus dari anak-anak dan
pemuda yang melalui pintu sekolah.
Pada zaman dahulu waktu manusia masih hidup pada
kelompok-kelompok kecil dan sederhana, pendidikan anak-anak untuk kehidupannya
dalam masyarakat itu diselenggarakan di luar sekolah. Segala sesuatu yang perlu
bagi pendidikannya diperoleh anak-anak dari orang-orang disekitar lingkungannya
tanpa pendidikan formal disekolah. Mereka hanya meniru dan mengikuti kelakuan
dan cara-cara orang dewasa, sehingga mereka pandai mengolah tanah, memancing,
dan berburu.
Kurikulum mata pelajaran yang tradisional, awal mulanya
di abad pertengahan, yang dikenal dengan sebutan “seven liberal arts” (tujuh
pengetahuan umum). Oleh St Augustine didalam bukunya “Retraction”
(1998 : 167) menyebutkan
dengan tujuh disiplin (seven discipline). Seven liberal arts tadi bukanlah
sekedar suatu latihan mata pelajaran, tetapi berkaitan erat dengan peranan dan
fungsi seseorang setidak-tidaknya dalam tiga profesi penting. Dari ketujuh
disiplin (disebut trivium), pada dasarnya merupakan telaah bahasan, yaitu
terdiri dari tata bahasa, retorika, logika atau dialektika. Trivium tersebut
merupakan prasyarat untuk melanjutkan keempat disiplin berikutnya. Keempat
disiplin berikutnya (disebut quadrivium), yaitu ilmu hitung, geometri,
astronomi, dan seni musik. Akan tetapi setelah masyarakat mengalami perubahan dan
kemajuan, maka pendidikan seperti itu tidak serasi lagi, anak-anak harus
memiliki berbagai macam keterampilan dan sejumlah besar pengetahuan agar
hidupnya terjamin. Dengan perkembangan zaman tersebut untuk membekali siswa maka
harus ada sosiologi kurikulum yang tinggi.
Dalam sejarah perkembangannya yaitu setelah abad ke-17,
kurikulum juga sudah mulai menyebar kepada pembicaraan mengenai metode
pembelajaran. Sebagaiamana diketahui, pada kurikulum tradisional begitu mapannya
metode tradisional seperti dikte, menghafal, dan meniru.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Locke,
dimana dia menginginkan berkurangnya kurikulum tradisional. Namun, setelah
berakhirnya reformasi pada tahun 1832 terjadi sebuah kebutuhan yang meningkat
terhadap sekolah yang bertipe komersial, dimana mata pelajaran tersebut
dilengkapi dengan hal-hal yang jelas dan bermanfaat untuk usaha bisnis, ( Mulyasa, 2002 : 115).
Pada laporannya, Hadow ( 2001 : 7
) menekankan mengenai suatu kurikulum
Sekolah Dasar, seperti yang tertuang pada laporan Hadow dimana laporan mengenai
kurikulum Sekolah Dasar ini, memang tidak ada yang mengejutkan sebab relative serupa dengan
pemikiran-pemikirannya dengan laporan sebelumnya tentang kurikulum Sekolah
Dasar. Dalam hubungan tersebut, yang menjadi pokok perhatiannya ialah mengenai
penumbuhan pengalaman para murid (dengan memperkaya dan memperluas pengajaran
sehari-hari murid dengan kondisi lingkungannya). Dengan demikian, tekanannya
terletak pada tingkah laku nyata murid dalam kehidupan daripada kecerdasan
akademisnya.
Menurut
Toffler (1980:29-30) yang dikutip kembali oleh Juanda(2012 : 125)
mengkategorikan gelombang kehidupan masyarakat dunia dibagi tiga, yaitu :
a.
Pola Hidup Masyarakat Bertani
Pola hidup
masyarakat bertani misalnya bercocok tanam, berburu, memancing. Keadaan
peradaban meraka masih primitive dan tradisi kehidupan meraka sangat sederhana.
Pola kehidupan mereka nomaden atau berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat
yang lainnya tergantung kesuburan tanah sebagai tempat tinggal mereka.
b.
Pola Hidup Masyarakat Industry
Pola hidup masyarakat industry bergantung pada
hasil industry dan lebih maju dibandingkan dengan masyarakat pola hidup
bertani. Kehidupan mereka sudah modern baik pola makan, minum,
berpakaian,maupun tempat tinggal serta alat transportasi. Sejak saat itulah
lahirlah masyarakat baru yang di kuasai oleh kemajuan teknologi. Masyarakat ini
disebut Teokrasi. Masyarakat Teokrasi adalah masyarakat yang didasarkan pada
kemajuan ilmu pengetahuan dan terkonologi yang nyata telah mengubah dan
memperbaiki taraf kehidupan masyarakat, (Tilar. 2006:57).
c.
Pola Hidup Masyarakat Teknologi Komunikasi.
Pola hidup
masyarakat teknologi komunikasi ini lebih maju daripada pola hidup masyarakat
yang kedua. Teknologi yang digunakan adalah teknologi komunikasi yang serba
canggih sehingga hubungan antar manusia diberbagai belahan dunia bukan
menggunakan alat transportasi seperti mobil, kereta api ataupun kapal terbang,
melainkan menggunakan Tv, HP, internetan da lain sebagainya. Sebagai akibat kemajuan
teknologi komunikasi menurut Tilar (2006 : 59) telah menjadikan dunia sebagai
suatu kampong kecil. Misalnya hubungan antar Negara tidak dapat dibatasi lagi oleh Geografis, dan
kejadian disuatu Negara misalnya perang, bencana alam, penemuan berbagai hasil
penemuan, dll mudah di akses dengan teknologi komunikasi.
Perubahan kebudayaan yang terjadi
diantara masyarakat tergantung pada pola hidup yang meraka jalani. Berbagai
perubahan kebudayaan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan sebagai sumber
kurikulum. Penyusunan kurikulum seharusnya disusun atau dirancang oleh orang
yang memahami kompleksitas dan kebudayaan. Seorang ahli kurikulum perlu
memahami dan menganalisis struktur masyarakat guna menentukan arah dan tekanan
tujuan pendidikan, (Sukmadinata. 2007 : 221)
Jadi hubungan sosiologi dengan
kurikulum yaitu ada peran sosiologi terhadap kurikulum itu sendiri, dengan
tujuan agar siswa atau masyarakat dapat bersosialisi lebih luas untuk
mendapatkan pengaruh tekanan masyarakat terhadap pendidikan dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang beraku dalam masyarakat.
Dalam
studi antropologi dan sosiologi akan ditemukan sejumlah pengertian “kebudayaan”
antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, Selo Sumarjan dan
Sulaiman Sumardi merumuskan bahwa kebudayaan adalah hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat
menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan. Rasa meliputi jiwa manusia
yang diwujudkan dalam norma-norma dan nilai-nilai, dan cipta merupakan pikiran
orang-orang dalam hidup bermasyarakat. Berbeda dengan pendapat di atas, Maurich
Boyd seperti yang dikutip Oemar Hamalik. 2009 : 89 ) mengatakan bahwa hasil
karya manusia yang bersifat material bukan termasuk kebudayaan, seperti
teknologi, karena ia merupakan hasil produksi dari kebudayaan dan hanya
merupakan aspek esensial dari sebuah kebudayaan.
3.
Kekuatan Sosial yang Mempengaruhi
Kurikulum
Masyarakat
tidak bersikap statis. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang
semakin kompleks. Perubahan bukan hanya terjadi pada sistem nilai, akan tetapi
juga pada pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan, dan tuntutan masyarakat, (Dakir,2004:87).
Para
pengembang kurikulum harus memperhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat
yang berbeda itu. Oleh sebab itu, menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan
masyarakat merupakan salah satu langkah penting dalam proses penyusunan suatu
kurikulum. Dalam konteks inilah pegembang kurikulum perlu menjalankan peran
evaluative dan peran kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum.
Sekolah adalah institusi sosial yang didirikan dan
ditujukan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu,
wajar jika dalam penyusunan dan pelaksanaannya kurikulum sekolah banyak
berkembang dan selalu berubah didalam masyarakat. Pengaruh tersebut berdampak
pada komponen-komponen kurikulum seperti tujuan pendidikan, siswa, isi
kurikulum, maupun situasi sekolah tempat kurikulum dilaksanakan.
Berbagai kekuatan sosial yang mempengaruhi
pengembangan kurikulum ada beraneka ragam. James W. Thornton dan John R. Wright
( 2004 . 167 ) dalam bukunya ’’secondary school curiculum’’,
mengklasifikasikankan kekuatan sosial yang mempengaruhi kurikulum antara lain :
a.
Kekuatan sosial yang resmi, terdiri
atas:
1)
Pemerintah suatu negara, melalui
Undang-Undang Dasar, dasar negara,falsafah dan ideologi Negara.
2)
Pemerintah daerah, melalui berbagai
kebijakn pemerintah dalam bidang pendidikan.
3)
Perwakilan Departemen Pendidikan
setempat.
b.
Kekuatan sosial setempat, yang
terdiri atas:
1)
Yayasan-yayasan yang bergerak di
bidang pendidikan.
2)
Kerukunan atau persatuan keluarga
sekolah-sekolah sejenis.
3)
Perguruan Tinggi, yakni universitas,
akademi, maupun institute.
4)
Persatuan Orang Tua Murid dan Guru.
5)
Penerbit buku-buku pelajaran.
6)
Perkumpulan yang berdasarkan
kemanusiaan.
7)
Manusia masa seperti radio,
televisi, dan surat kabar.
8)
Adat kebiasaan masyarakat setempat.
Faktor sosial budaya sangat penting
dalam penyusunan kurikulum yang relevan, karena kurikulum merupakan alat untuk
merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah satu dari dimensi kebudayaan.
Implikasi dasarnya adalah sebagai berikut :
1.
Kurikulum harus disusun berdasarkan
kondisi sosial budaya masyarakat. Kurikulum disusun bukan hanya harus berdasarkan
nilai, adat istiadat, cita-cita dari masyarakat, tetapi juga harus berlandaskan
semua dimensi kebudayaan.
2.
Karena kondisi sosial budaya
senantiasa berubah dan berkembang sejalan dengan perubahan masyarakat. Maka
kurikulum harus disusun dengan memperhatikan unsur fleksibilitas dan bersifat
dinamis, sehingga kurikulum tersebut senantiasa relevan dengan masyarakat.
Konsekuensi logisnya, pada waktunya perlu diadakan perubahan dan revisi
kurikulum, sesuai dengan perkembangan dan perubahan sosial budaya yang ada pada
saat itu.
3.
Program kurikulum harus disusun dan
mengandung materi sosial budaya dalam masyarakat. Ini bukan hanya dimaksudkan
untuk membudayakan anak didik, tetapi sejalan dengan usaha mengawetkan
kebudayaan itu sendiri.
4.
Kurikulum di sekolah harus disusun
berdasarkan kebudayaan nasional yang berlandaskan pada falsafah pancasila, yang
mencakup perkembangan kebudayaan daerah. Integrasi kebudayaan nasional akan
tercermin dalam isi dan organisasi kurikulum, karena sistem pendidikan kita
bermaksud membudayakan anak didik berdasarkan kebudayaan masyarakat dan bangsa
kita sendiri.
Ada
beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kurikulum dalam
masyrakat, ( Nasution. 2004 : 148) menyatakan :
1.
Kebutuhan Masyarakat
Kebutuhan
masyarakat tak pernah tak terbatas dan beraneka ragam. Oleh karena itu lembaga
pendidikan berusaha menyiapkan tenaga-tenaga terdidik yang terampil yang dapat
dijadikan sebagai penggali kebutuhan masyarakat.
2.
Perubahan dan Perkembangan Masyarakat
Masayarakat adalah suatu lembaga
yang hidup, selalu berkembang dan berubah. Perubahan dan perkembangan nilai
yang ada dalam masyarakat sering menimbulkan konflik antar generasi. Dengan
diadakannya pendidikan diharapkan konflik yang terjadi antar generasi dapat
teratasi.
3.
Tri Pusat Pendidikan
Yang dimaksud dengan tri pusat
pendidikan adalah bahwa pusat pendidikan dapat bertempat di rumah, sekolah ,
dan di masyarakat. Selain itu mass media, lembaga pendidikan agama, serta
lingkungan fisik juga dapat berperan sebagai pusat pendidikan.
Jika
dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar
menjadi warga masyarakat yang diharapkan, pendidikan adalah proses sosialisasi,
dan berdasarkan pandangan antrofologi, pendidikan adalah “enkulturasi” atau
pembudayaan. “Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia
yang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu,
mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi,
maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik
kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut” (Nana Syaodih Sukmadinata,
1997:58). Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang
diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting, karena itu kurikulum harus
mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerja sama, berinteraksi,
menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat dan mampu meningkatkan harkat
dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya.
Masyarakat
adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke dalam
kelompok-kelompok berbeda, atau suatu kelompok individu yang terorganisir yang
berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau
masyarakat lainnya. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri.
Dengan demikian, yang membedakan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya
adalah kebudayaan. Hal ini mempunyai implikasi bahwa apa yang menjadi keyakinan
pemikiran seseorang, dan reaksi seseorang terhadap lingkungannya sangat tergantung
kepada kebudayaan dimana ia hidup.
Menurut
Daud Yusuf (1982 : 76 ), terdapat tiga sumber nilai yang ada dalam masyarakat
untuk dikembangkan melalui proses pendidikan, yaitu: logika, estetika, dan
etika. Logika adalah aspek pengetahuan dan penalaran, estetika berkaitan dengan
aspek emosi atau perasaan, dan etika berkaitan dengan aspek nilai. Ilmu
pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai yang bersumber pada logika
(pikiran). Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia, maka kehidupan manusia semakin
luas, semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin tinggi.
Pendidikan
harus mengantisipasi tuntutan hidup ini sehingga dapat mempersiapkan anak didik
untuk hidup wajar sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Dalam konteks
inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan
tuntutan masyarakat. Untuk dapat menjawab tuntutan tersebut bukan hanya
pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja, melainkan juga dari segi pendekatan
dan strategi pelaksanaannya. Oleh karena itu guru sebagai pembina dan pelaksana
kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan masyarakat, agar apa
yang diberikan kepada siswa relevan dan berguna bagi kehidupan siswa di
masyarakat.
B.
Landasan
Antropologis Kurikulum
1.
Definisi
Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu
dari kata ”antrophos” berarti manusia, dan “logos” berarti ilmu. Antropologi
mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu
dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional
memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan
pada perbanding atau perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini
banyak diperdebatkan dan manjadi kontroversi sehingga metode antropologi
sekarang sering kali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang
merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti
kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, (Sugianto, 2013).
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang
mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir
atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri
fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase.
Antropologi secara
garis besar dipecah menjadi 2 bagian yaitu antropologi fisik atau biologi
dan antropologi budaya. Tetapi dalampecahan antropologi budaya,
terpecah lagi menjadi banyak sehingga menjadi spesialisasi – spesialisasi,
termasuk antropologi pendidikan. Seperti halnya kajian antropologi pada
umumnya antropologi pendidikan berusaha menyusun generalisasi yang
bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian
yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.
Antropologi
adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang
budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal
dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat
istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu
antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada
penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan
masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi
tetapi pada sosiologi lebih menitikberatkan pada masyarakat dan kehidupan
sosialnya, (Suryani, 2012).
Antropologi
memiliki dua sisi holistic dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap
dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan
antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaanlainnya yang menekankan pada
perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia, (Suryani, 2012).
Sebagaimana
dikatakan oleh Suryani (2012) antropologi berasal dari kata anthropos yang
berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu.
Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk
social.
Dari
persamaan definisi yang telah diaparkan
diatas, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang
mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara
berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap
manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Secara umum Antropologi
adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi
yang bermanfaat tentang manusia
dan perilakunya dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang
keanekaragaman manusia. Sedangkan Antropologi pendidikan adalah ilmu
pengetahuan yang berusaha memahami dan
memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analsis berdasarkan konsep-konsep
dan pendekatan Antropologi.
2.
Hubungan Antropologi dengan
Kurikulum
Antropologi
sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka, yang muncul pada saat
lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi, geologi dan terutama di
dorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong oleh konsep evolusi organisme,
mulailah berkembang Antropologi dengan pandangan bahwa pada dasarnya semua
kebudayaan manusia berkembang melalui tahap-tahap yang menjurus kearah
kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa dan Amerika. Dengan makin cepatnya
perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami
kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat
diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan
metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini pendidik dan antropolog harus
saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan
saling berhubungan pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah merupakan
sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang
dipakai antropolog terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh
praktek-praktek pendidikan, (Anonim, 2010).
Penerapan
landasan antropologi dalam pendidikan saat ini adalah sebagai berikut:
a.
Model Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal.
Model
pembelajaran ini diterapkan melalui muatan lokal. Materi disesuaikan dengan
potensi lokal masing-masing daerah di lingkungan sekolah. Sehingga siswa dapat
mengenali potensi budayanya sendiri, mengembangkan budaya, menumbuhkan cinta
tanah air, dan mempromosikan budaya lokal kepada daerah lain.
b.
Metode Pembelajaran Karya Wisata
Guru
mengajak siswa ke suatu tempat ( objek ) tertentu untuk mempelajari sesuatu
dalam rangka suatu pelajaran di sekolah. Metode karyawisata berguna bagi siswa
untuk membantu mereka memahami kehidupan ril dalam lingkungan beserta segala
masalahnya misalnya, siswa diajak ke museum, kantor, percetakan, bank,
pengadilan, atau ke suatu tempat yang mengandung nilai sejarah/kebudayaan
tertentu.
c.
Pembelajaran dengan Modeling
Modelling adalah
metode pembelajaran dengan menggunakan model (guru) sebagai obyek belajar
perubahan tingkah laku yang kemudian ditiru oleh siswa. Modelling bertujuan
untuk mengembangkan keterampilan fisik dan mental siswa.
3.
Adat Kebiasaan Masyarakat Perkotaan
dan Pedesaan Sebagai Landasan Kurikulum
Indonesia
terdiri dari ribuan pulau yang dirangkai oleh selat, dan keadaan geogafisnya
tidak merata. Faktor geografis suatu daerah sangat berpengaruh pada jaringan
komunikasi dan transportasi antar daerah maupun pulau. Khususnya di daerah yang
dikelilingi hutan belantara dan pegunungan yang tinggi akan menghambat proses
informasi, sehingga akan berpengaruh pada pengetahuan penduduk di sekitar.
Selain faktor geografisnya, di masing-masing daerah memiliki berbagai macam
suku bangsa, adat istiadat, sistem nilai, budaya yang berbeda. Misalnya: suku
jawa, sunda, madura, dayak, minang, batak dan sebagainya. Sedangkan dari ras
polynesia yang mendiami Indonesia bagian timur, misalnya: Ambon, Timor, Irian
Jaya. Keragaman budaya tersebut telah memberikan pengaruh terhadap hubungan
sosial masyarakat, sistem pendidikan, mata pencaharian, dan pola berfikir
manusia, (Sukri, 2012).
Dengan
berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan secara alamiah dari dulu telah
berlangsung upaya pendidikan sebagai proses transmisi dan transformasi
kebudayaan. Untuk itu, pendidikan di masing-masing daerah berbeda dan
disesuaikan dengan budaya daerah tersebut. Proses pendidikan bangsa telah ada
sebelum kedatangan penjajah dan memiliki antropologis yang kuat. Setelah bangsa
Eropa datang maka diintrodusirlah sistem persekolahan, dengan kurikulum yang
diatur oleh tim pengembang kurikulum dari luar (Sukri, 2012).
Kurikulum
yang sudah diterapkan pada masing-masing daerah berdampak perkembangan
pengetahuan yang berbeda dan mempengaruhi kemajuan masyarakat. Hal ini tentunya
berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan daerah
pedesaan (Sukri, 2012).
Masyarakat
perkotaan, memberikan pendidikan anaknya mulai tingkat dasar sampai perguruan
tinggi. Program pendidikan di sekolah terdiri dari: sekolah reguler, home schooling, akselerasi, dan sekolah
berstandar internasional (RSBI). Selain itu, di kota merupakan pusat pemerintahan
dan perdagangan, sehingga memungkinkan perkembangan pendidikan mudah dijangkau
dan cepat (Sukri, 2012).
Berbeda
dengan daerah pedesaan, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi merupakan
permasalahan. Hal ini dikarenakan tingkat ekonomi penduduk yang masih minim,
kesadaran orang tua akan pendidikan masih kurang, akses lembaga pendidikan
terbatas, dan angka migrasi tinggi. Hal ini menyebabkan angka anak drop out dari keluarga kurang mampu
tersebut tinggi
(Sukri, 2012).
Menurut paparan yang sudah dijelaskan di atas adat
kebiasaan masyarakat perkotaan dan pedesaan berbeda. Contohnya pada adat
pendidikan, masyarakat perkotaan memberikan pendidikan anaknya mulai tingkat
dasar sampai perguruan tinggi sedangkan pedesaan seorang anak melanjutkan
jenjang pendidikan ke perguruan tinggi merupakan permasalahan.
C.
Landasan
Teknologi Kurikulum
1.
Definisi
Teknologi
Ilmu pengetahuan dari berbagai
disiplin ilmu yang ditemukan oleh para ilmuan banyak memberikan sumbangan
terhadap berbagai kemajuan kehidupan diantaranya dengan ditemukannya teknologi.
Dalam Random House Dictionary seperti dikutip Naisbitt (2002 : 46) Teknologi
adalah sebagai benda, sebuah obyek, bahan dan wujud yang jelas-jelas berbeda
dengan manusia. Menurut Wikipedia bahwa Teknologi adalah keseluruhan sarana
untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan
kenyamanan hidup manusia.
Sedangkan menurut para ahli Haag & Keen (1996) menjelaskan bahwa
teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu pekerjaan dengan
informasi serta melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan
informasi.
Menurut Martin (1999) bahwa teknologi
informasi tidak hanya terbatas pada TI (Hardware dan Software) yang digunakan
untuk memproses dan menyimpan informasi, serta juga mencakup teknologi
komunikasi yang mengirimkan sebuah informasi.
Menurut Williams dan Sawyer (2003), TI
adalah teknologi yang menggabungkan Komputer dengan jalur komunikasi yang
berkecepatan tinggi yang dapat membawa data, suara dan video. Menurut Lucas (2000) Teknologi Informasi
adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan
informasi dalam bentuk elektronis. (Anonym,
2012)
Jadi teknologi kurikulum
merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori belajar dengan
menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain, pengembangan,
implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu
memecahkan masalah belajar dan kinerja.
2.
Kemajuan
Teknologi Komunikasi
Pada
awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif
sederhana, tetapi sejak abad
pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori
baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus
semakin berkembang. Akal
manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang
tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil
kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam
bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat
Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama
yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan. Kemajuan cepat dunia dalam bidang
informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada
peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini
terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan
keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang
berlaku pada konteks global dan lokal,
(Riedu, 2013).
Selain itu,
dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan
melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat
pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan
canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan
meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar
(learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta
mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.
Perkembangan
dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi
dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu,
kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan
sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan
kelangsungan hidup manusia,
(Anonym, 2012).
Hasil perkembangan
teknologi informasi yang pada saat ini berkembang sangat cepat membuat cemas
seluruh masyarakat terutama para orang tua untuk selalu mengawasi anak-anaknya
untuk tidak mendekati kedampak negatifnya, karena dengan fasilitas teknologi,
yang memudahkan para pemakai untuk tidak
terlepas dari anak-anak. Dampak
negatif teknologi yang biasa dilihat oleh anak-anak adalah mengakses
pornografi, kekerasan dsb, yang dapat menyebabkan gesekan nilai-nilai, norma,
dan budaya.
Munculnya permasalahan-permasalahan
tersebut menyebabkan tugas-tugas pendidikan yang diemban sekolah menjadi kian
kompleks. Tugas sekolah menjadi semakin berat, dan kadang-kadang tidak mampu
lagi melaksanakan semua tuntutan masyarakat. Bahkan seiring dengan kemajuan
zaman, tugas-tugas yang dahulu bukan menjadi tanggung jawab sekolah kini
menjadi tugas sekolah. Sekolah tidak hanya bertugas menanamkan dan mewariskan
ilmu pengetahuan, tetapi juga harus member keterampilan, juga harus menanamkan
budi pekerti dan nilai-nilai.
Dengan tugas dan tanggung
pendidikan yang demikian berat, kurikulum sebagai alat pendidikan, harus selalu
diperbarui menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi baik isi maupun
prosesnya, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian
cepat. Pendidikan merupakan usaha menyiapkan anak didik agar siap menghadapi
lingkungan yang senantiasa mengalami perubahan. Kita maklumi bersama bahwa
perubahan tersebut berjalan dengan pesat. Pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau
latihan, serta membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan guna perannya di
masa datang. Sementara itu teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan
ilmiah dan ilmu-ilmu lainnya untuk memecahkan masalah-masalah praktis dan dapat
membuat kurikulum yang lebih baik lagi dari kuri kulum sebelumnya. Dengan
demikian Ilmu dan teknologi tidak bisa dipisahkan. Ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang teramat pesat seiring lajunya perkembangan masyarakat,
(Zackey, 2013)
Teknologi ini sebenarnya disatu sisi sebagai sumber kurikulum atau
mata pelajaran, dan disisi lain sebagai alat bantu untuk mempercepat
transformasi pendidikan diberbagai jenjang pendidikan mulai pendidikan dasar
sampai perguruan tinggi. Keputusan yang akan diambil mengenai teknologi sebagai
kurikulum akhirnya akan berpulang kepada pemangku kebijakan terkait. Misalnya
pemerintah yang memiliki kewenangan dibidang pendidikan, masyarakat sebagai
jasa pengguna pendidikan, sekolah guru-guru siswa. Akan tetapi yang paling dominan
menggunakan teknologi seperti : computer, internet, tv, dan sebagainya adalah
guru, sebab guru sebagai media yang hidup, dan mampu berfikir. Sebagus apapun
teknologi tergantung bagaimana kemampuan guru mengoprasikan alat itu sebab
teknologi tetap bodoh. Teknologi dapat dijadikan sebagai bahan ajar dan juga
sebagai media pembelajaran , tergantung dari mana guru menggunakanya. Dengan
demikian para pengembang kurikulum dihadapkan pada tugas-tugas untuk :
a)
Mempelajari
dan memahami kebutuhan masyarakat seperti
dirumuskan dalam undang-undang, peraturan, keputusan pemerintah dan sebagainya.
b)
Menganalisis
tempat sekolah berada
c)
Menganalisis
syarat dan tuntutan terhadap tenaga kerja
d)
Menginterpretasi
kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat, (Nasution,1989 :24).
Jadi baik
secara langsung maupun tidak langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tersebut sangat berpengaruh juga terhadap pendidikan. Karena pada
perkembangan teknologi industri itu juga mempunyai hubungan timbal-balik dengan
pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagai macam alat-alat
dan bahan yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan dalam pendidikan
dan sekaligus menuntut sumber daya manusia yang handal untuk
mengaplikasikannya. Contohnya pada jaman dahulu manusia masih belajar
menggunakan buku dan kalau ingin memberikan informasi harus menulis surat dan
mengirimkannya lewat pos tetapi pada jaman sekarang ini teknologi sudah
berkembang pesat manusia tidak usah bersusah payah mencari-cari buku karena jaman
sekarang sudah ada media internet yang memfasilitaskan manusia untuk belajar
dengan menggunakan internet karena materi pelajaran dapat diakses melalui via
internet dan kalau ingin memberikan informasi bisa menggunakan via telefon yang
langsung disampaikan secara cepat.
3.
Implikasi Kemajuan Teknologi
Terhadap Pengembangan Kurikulum
Sebagai
contoh dalam kurikulum pendidikan diera glabalisasi modern ini sudah banyak
sekolah atau tempat belajar yang menggunakan media teknlogi dalam sumber
pelajaran. Misalnya pengadaan dan penggunaan dalam suatu sekolah dimana setiap
siswa biberikan keleluasaan untuk mengakses informasi pendidikan dari jaringan
sekolah.
Menurut
Mulyasa,
2003 Dalam penerapan dunia pendidikan, teknologi dapat dilakukan
dalam beberapa bidang, diantaranya :
a)
Dalam pendidikan kemampuan belajar
siswa dapat lebih efektif.
Teknologi
merupakan sarana untuk lebih mudah mengerjakan kreatifitas siswa. Contohnya
menurut Anda (2012;124) penggunaan audiovisual (t.v., tape recorder, komputer,
OHP, internet, LCD, DVD, dll) alat perangkat keras atau teknologi (hardware)
tersebut berguna untuk mengakselerasi pendidikan dan pembelajaran siswa.
Kegunaan teknologi ini sebagaimana diungkapkan Seels dan Barbara dalam (Hanafi,
1994 : 100) teknologi dapat memberikan prospek munculnya stumulus yang
realistic, memberikan akses terhadap sejumalah informasi dalam waktu yang cepat
dan dapat menghilangkan hambatan jarak antar pengajar dan pembelajar dan antara
pembelajar itu sendiri (software). Kemanfaatan lainnya bagai guru yang terampil
dan kreatif dapat menghasilkan produk pembelajaran yang dapat memberikan
keunggulan dalam :
1)
Mengintegrasikan media
2)
Pembelajaran yang dapat
menghilangkan kejenuhan belajar siswa
3)
Gairah belajar siswa dimungkinkan
akan lebih aktif dan kreatif
4)
Pembelajaran menghilangkan penyakit
verbalisme pada diri individu / siswa
5)
Menyelenggarakan pengendalian atas
pembelajaran yang jumlahnya hampir tidak terbatas
6)
Mendisain kembali materi untuk
kemudian disesuaikan dengan kebutuhan, latar belakang dan lingkungan kerja
setiap individu.
b)
Dalam Bidang Industri dan
Manufaktur.
Dapat
merancang design sebuah produk yang akan dikeluarkan pada sebuah Industri, dan
dapat mengontrol mesin produk dengan ketepatan yang maksimal.
c)
Dalam Bidang Bisnis Dan Perbankan.
Dapat
membantu dalam penyimpan berkas yang lebih aman, dan dapat berfungsi dalam
kegiatan bertransaksi. Contohnya sebelum adanya mobile bank kalau kita ingin
mentransfer uang harus datang kebank, kalau sekarang tidak usah kebank lagi
karena lewat handphone yang ada aplikasi mobile banknya kita dapat mentransfer
uang melalui handphone
d)
Dalam Bidang Kemiliteran.
Dapat
difungsikan sebagai navigasi kapal selam, dan dapat mengendalikan pesawat luar
angkasa baik dengan pengemudian ataupun tidak.
e)
Dalam Teknik dan Pengetahuan.
Dapat
mempelajari struktur tanah angin serta cuaca dan dapat membantu dalam hal
perhitung.
f)
Bidang Kedokteran.
Dapat
gunakan untuk mendiagnosa penyakit dan dapat digunakan untuk mengambarkan
seluruh organ tubuh.
g)
Bidang Pemerintahan.
Dapat
mengelolah suatu data dan imformasi yang diperuntukan untuk kepenting
masyarakat dan dapat meningkatkan hubungan antara pemerintahan
dan masyarakat
h)
Bidang Entertaiment dan Permainan.
Dapat
membuat animasi, periklanan, film dan dapat membuat grafis serta audiovisual
menjadi lebih menarik. Contohnya pada jaman era 90 an film kartun yang dibuat
oleh anak-anak Indonesia belum ada sedangkan pada jaman 2010 an kartun yang
dibuat oleh anak-anak Indonesia sudah mulai muncul salah satunya adalah kartun
Sopo Dan Jarwo di mnctv.
i)
Dalam Bidang Kriminalitas.
Dapat
memudahkan aparat terkait dalam memecahkan permasalahan dan dapat dengan mudah
mendektesi pelanggaran demi pelanggaran lalu lintas dan melakukan sidik jari. Dalam pengembangan kurikulum salahsatunya haruslah
memperhatikan IPTEK. Sebab tanpa memperhatikanIPTEK kurikulum tersebut akan
ketinggalan zaman dan pelajar tidak dapat ilmu yang dituntut oleh dunia
pekerjaan. Sehingga pada hakekatnya inovasi kurikulum terus berjalan mengiringi
kemajuan jaman, sehingga menghasilkan materi pembelajaran berupa struktur
ilmu perkembangan IPTEK.
Alasan lain mengapa IPTEK atau teknologi harus
digunakan sebagai landasan kurikulum adalah:
a. Kemajuan IPTEK atau tekhnologi membawa manusia pada
masa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya
b.
Banyaknya
muncul permasalahan- permasalahan akibat penyalahgunaan kemajuan
IPTEK atau tekhnologi
c.
Kurikulum
perlu diupdate agar sesuai dengan perkembangan teknologi
d.
Perubahan
yang perlu diperhatikan dan diantisipasi dalam pengembangan kurikulum adalah:
perubahan pola hidup dan perubahan sosial politik.
D.
Landasan
Religius Kurikulum
1. Ibadah Makdah
a. Definisi Ibadah Makdah
Ibadah secara
etimologis berasal dari bahasa arab yaitu عبد- يعبد -عبادة yang artinya melayani patuh, tunduk. Sedangkan
menurut terminologis ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang
dicintai dan diridhoi Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan, baik
yang dhahir maupun yang bathin.
Menurut Abu Hamid (2007: 30) bahwa Ibadah merupakan suatu
usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, Ibadah dalam Islam itu ada dua
macam, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah Mahdhah dapat di artikan
sebagai penghambaan yang murni yang hanya berhubungan antara hamba dengan Allah
secara langsung tanpa adanya sesuatu yang lain, sedangkan menurut Hasbi didalam buku Ibadahnya menyatakan bahwa Ibadah Makhdah adalah ibadah yang datangnya
dari Allah SWT baik perkataan, perbuatan yang kemudian diperintahkan kepada
Rasulullah untuk mengerjakannya. Seperti sholat fardu 5 kali, ibadah puasa
ramadhan dan haji. Semuanya itu dari Allah untuk diperintahkan kepada
Rasulullah kemudian wajib ditirukan oleh umatnya tanpa boleh menambah
atau memperbaharui sedikitpun.
Ibadah mahdhah
ditujukan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan Allah, agar kita memiliki
keimanan yang benar, lurus dan kuat, agar kehidupan kita terjaga dari berbagai
hal yang merusak, menyesatkan, mencelakakan, dan mendapatkan ketenangan hati. Contoh ibadah mahdhah ini sepeti Wudhu,
Tayammum, Mandi hadats, Shalat, Shiyam ( Puasa ), Haji dan Umrah ibadah
ini allah yang menyuruh kepada umatnya agar dapat bisa mendekatkan diri dengan
allah secara langsung.
b.
Bentuk
dari Ibadah Makdah yaitu:
1) Keberadaannya
harus berdasarkan adanya dalil, baik dari al- Quran maupun
al- Sunnah, jadi ini merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal
atau logika keberadaannya dan Haram kita
melakukan ibadah ini selama tidak ada perintah dari allah dan rosulnya.
2) Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul SAW, Salah satu tujuan diutus
Rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh kepada umatnya apa yang sudah
Rosul dilakukan atau kerjakan maka harus ditiru oleh umatnya.
Seperti
dalam Firman Allah SWT :
وماارسلنا من رسول الا ليطاع باذن
الله … النسآء
Artinya : Dan Kami tidak mengutus
seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah…(Qur’an Surat. 64)
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه
فانتهوا…
Artinya : Dan apa saja yang
dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang dilarang maka
tinggalkanlah…( Qur’an Surat.
59: 7).
3). Bersifat supra rasional (jangkauan akal) artinya
ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan
wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan,
tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan
oleh mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan
syari’at, atau tidak, Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan
rukun yang ketat, karena wahyu itu datangnya dari allah untuk diberikan kedapa
Rosul untuk disampaikan kepada umatnya.
4). Azas Taat yang dituntut dari
hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. manusia
wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk
kepentingan dan kebahagiaan baik didunia ataupun di akhirat.
2.
Ibadah
Ghoiru Makdah
a.
Definisi
Ibadah Ghoiru Makdah
Ibadah ghoiru makdah adalah seluruh
perilaku seorang hamba yang
diorientasikan
untuk meraih ridho Allah, dengan kata lain Ibadah ghairu
mahdhah ialah segala amalan yang diizinkan oleh Allah. misalnya ibadaha ghairu
mahdhah seperti belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya.
Ibadah ini bisa dilakukan dimana saja tidak hanya dilakukan ditempat-tempat
yang tertentu karena ibadah ghoiru makhdah hanya untuk mendapatkan ridho dari
Allah tanpa adanya perintah dari Allah yang bedasarkan wahyu yang diturunkan,
(Anonim, 2014).
Ibadah ghoiru makhdah ini sebuah amalah yang dapat dilakukan
oleh siapa sajanya yang bertujuan untuk mendapatkan ridho dari Allah dengan
jalan yang benar dan ketika manusia melakukan amalan itu maka akan mendapatkan
fahala dari Allah SWT sebagai hadiah atas ketaatanya.
Bentuk Ibadah Ghairu
Makhdah meliputi 4 Bentuk yaitu :
1) Keberadaannya
didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah
bentuk ini boleh diselenggarakan selama tidak diharamkan oleh Allah maka boleh
melakukan ibadah ini.
2) Tatalaksananya
tidak perlu berpola kepada contoh Rasul karena dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” atau jika ada
yang menyebutnya segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam
ibadah ghoiru
makdah disebut bid’ah dhalalah.
3) Bersifat
rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya
atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya
dapat ditentukan oleh akal atau
logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh
dilaksanakan
4) Azasnya
“Manfaat”, selama
itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan. Maka segala bentuk kegiatan
baik yang ditujukan untuk meraih ridho Allah masuk ke dalam ranah ibadah ghoiru makdah.
b.
Agama sebagai Landasan Pengembangan Kurikulum
Seiring berjalannya waktu dan
perubahan zaman, perkembangan masyarakat, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kurikulum senanatiasa berkembang
menuntut perubahan yang terjadi di masyarakat, Sehingga agama
tidak bisa lepas dari dunia pendidikan termasuk pula di dalamnya, yaitu
kurikulum. Agama erat kaitannya dengan keadaan masyarakat yang mempercayainya.
Karena kepercayaan masyarakat tersebut, masyarakat memasukkan nilai-nilai agama
didalam segala kehidupan dunia mereka tanpa terkecuali dalam mengembangkan
kurikulum. Kurikulum akan semakin populer bila landasan dari segi agamanya sama
dengan mayoritas pemeluk agama di daerah dimana sekolah tersebut berada. Oleh
karena itu banyak lembaga pendidikan yang menjadikan agama sebagai pusat dari pengembangan
kurikulumnya.
Dari landasan ini lahirlah lembaga pendidikan yang berdasar
agama islam, seperti pondok pesantren, madrasah-madrasah, sekolah tinggi islam,
sekolah dasar islam, sekolah dasar kristen, atau sekolah tinggi kristen.
Lembaga-lembaga agama ini untuk tempat anak-anak yang masih bersekolah di
lembaga pendidikan agama yang berkurikulum, (Fandy, 2014).
Selain itu juga menurut Sukmadinat (1990:39)
menyatakan bahwa Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat diartikan
sebgai :
1) Kegiatan
menghasilkan kurikulum Pendidikan Agama Islam.
2) Proses
yang mengkaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum
Pendidikan Agama Islam yang lebih baik.
3) Kegiatan
penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum
Pendidikan Agama Islam.
Dalam realitas
sejarahnya, pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam tersebut ternyata
mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun dalam beberapa hal-hal
tersebut masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini dapat dicermati
dari fenomena berikut :
1) Perubahan
dari tekanan pada hafalan dan daya ingatan tentang teks-teks dari ajaran–ajaran
agama islam, serta disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur
tengah, kepada pemahaman tujuan, makna dan motivasi beragama islam untuk
mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2) Perubahan
dari cara berpikir tekstual, normative, dan absolutis kepada cara berpikir
historis, empiris dan kontekstual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran
dan nilai-nilai agama islam.
3) Perubahan
dari tekanan pada produk atau hasil pemikiran agama islam daripada pendahulunya
kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk tersebut.
4) Perubahan
dari pola pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang hanya mengandalkan
pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum Pendidikan Agama Islam
kearah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, tujuan pendidikan agama
islam dan cara-cara mencapainya.
Fungsi Kurikulum Pendidikan Agama Islam yaitu :
1.
Bagi sekolah / madrasah yang
bersangkutan
a. Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan
agama islam yang diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standart kompetensi
Pendidikan Agama Islam, meliputi fungsi dan tujuan pendidikan nasional,
kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan / lulusan, kompetensi bahan
kajian Pendidikan Agama Islam, kompetensi mata pelajaran PAI
b. Pedoman
untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama islam di sekolah / madrasah.
2.
Bagi sekolah / madrasah atau diatasnya :
Melakukan penyesuaian, menghindari keterulangan sehingga boros waktu, menjaga
kesinambungan.
3.
Bagi masyarakat sebagai pengguna lulusan
sehingga sekolah / madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan
masyarakat dalam konteks pengembangan Pendidikan Agama Islam, adanya kerjasama
yang harmonis dalam hal pembenahan dan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama
Islam.
Pada hakikatnya
yang menjadi tujuan pengembangan kurikulum berdasarkan agama adalah untuk
menginternalisasikan nilai-nilai agama sebagai titik sentral tujuan dari proses
pembelajaran agama itu sendiri, suatu contoh agama islam, maka setiap
lembaga pendidikan yang belandaskan islam maka nilai-nilai ajaran islam adalah
yang menjadi suatu tujuan dalam proses pendidikan. Selain itu juga
terdapat kendala dalam pendidikan berupa
kurangnya waktu yang di berikan, kurangnya motivasi, minimnya sarana, lemahnya
sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yg lebih variatif
serta minimnya peran serta orang tua, (Fandy,2014 :176 ).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan
dan pembahasan yang telah diuraikan dalam isi pembahasan makalah diatas, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1.
Landasan
sosiologis kurikulum sangatlah berperan dalam pengembangan kurikulum, karena
perkembangan masyrakat dan budaya selalu berkembang sehingga tidak bisa
dipungkiri untuk menikuti perkmbangan zaman yang semakin berkembang pendidikan
pun harus lebih maju untuk mencapai cita-cita pendidikan yaitu selain harus
mencerdaskan kehidupan bangsa juga harus bias beperan akti didalam masyarakat
dan tidak bias dipungkiri pula manusia adalah makhluk sosial yang harus
beriteraksi anara makhluk yang satu dengan yang lainnya, sehinnga dengan
dijadikannya sosiologis sebagai landasan kurikulum akan tercapai suatu
kesinergian.
2.
hubungan sosiologi dengan kurikulum
yaitu ada peran sosiologi terhadap kurikulum itu sendiri, dengan tujuan agar
siswa atau masyarakat dapat bersosialisi lebih luas untuk mendapatkan pengaruh
tekanan masyarakat terhadap pendidikan dan tidak bertentangan dengan
nilai-nilai yang beraku dalam masyarakat.
3.
Landasan
antropologis kurikulum yang lebih lengkap lagi karena antrhopoligis merupakan ilmu
yag mempelajari biologis dan social, sehingga perkembangan kurikulumpun harus
berubah karena perkembangan antrhopolis akan selalu berkembang.
4.
Teknologi kurikulum merupakan
penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori belajar dengan menggunakan
pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain, pengembangan, implementasi,
evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah
belajar dan kinerja.
5.
Landasan
tekhnologis atau iptek kurikulum, yang tidak bias dipungkiri tekhnoloi semakin
cepat berkembang sehingga dengan dijadikannya tekhnologi sebagai salah satu
landasan dimana peserta didik tidak akan ketinggalan zaman dengan perkebangan
tekhnoli yang ebh maju lagi, pebelajaran pun akan lebih mudah diterapkan dengan
berbagai aspek positif didalam nya.
6.
Agama
atau religious yang dijadikan sebagai landasan kurukulum tidak terlepas pula karena
agama merupakan suatu pegangan seluruh manusia, yang merupakan suatu keyakinan
yag pada saat ini perkembangan pun semakin meningkat.
7.
Tujuan pengembangan kurikulum
berdasarkan agama adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama
sebagai titik sentral tujuan dari proses pembelajaran agama itu sendiri, suatu
contoh agama islam, maka setiap lembaga pendidikan yang belandaskan islam
maka nilai-nilai ajaran islam adalah yang menjadi suatu tujuan dalam proses
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Abu
Ahmadi. (2007). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Al
Ghazali, Abu Hamid. (2007). Minhaj al Abidin Ila al Jannah.
Jogjakarta: Diva Press
Alim, Muhammad. (2006). Pendidikan
Agama Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Brown.
(1961). Educational Sosiology.Tokyo: University Book Store
Dakir, H. (2004). Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta : Rinekaa Cipta
Deddiknas. (2003). Standar Kompetensi Bahan Kajian; Pelayanan
Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang.
________. (2003). Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif;
Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang
________. (2003). Penilaian Kelas; Pelayanan Profesional
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur
Balitbang.
E. Mulyasa. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung
: P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. (2004). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. (2006). Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya
Juanda, Anda.(2012). Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik KTSP. Cirebon. Nurjati Press
_________. (2004). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. (2006). Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya
Juanda, Anda.(2012). Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik KTSP. Cirebon. Nurjati Press
M.
Noor Syam, N. etine. (1980). Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya: Usana
Offset Printing.
Nasution,
S. (2004). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Syaodih Sukmadinata. (1997). Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek.
Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Nana Syaodih
Sukmadinata. (2010). Pengembangan
kurikulum teori dan praktek. Bandung: Remaja Rosda krya
Noor Syam, dkk. (1980).
Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya:
Usana Offset Printing
Permendiknas No. 22, 23 dan 24
Tahun 2007
Sukmadinata,
Nana Saodih. (2007). Pengembangan
Kurikulum, Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Soerjono Soekanto. (1996). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV
Rajawali.
Shiddieqy, Hasbi. (1991). Kuliah
Ibadah. Yogyakarta: Bulan Bintang.
Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran. (2002). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung :
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek
Intenet
:
Ali Hasan. (2013). Landsan Sosiologis Pengembangan. [online].Tersedia
di: http://pekalonganbatiktv.blogspot.co.id/2013/04/landasan-sosiologis-pengembangan.html
diakses pada tanggal 25 September 2015
Anonym.
(2014). Pngertian Ibdah Mahdah dan
Jenis-jenis nya [online].http://www.jadipintar.com/2014/08/pengertian-ibadah-ibadah-mahdhah-dan-jenis-jenisnya.html
diakses pada tanggal 23 September 2015
Anonim.
(2010).Antropologi.[Online].Tersedia:http://dokumen.tips/documents/antropologi-makalah- kel10-1.html. diakses pada tanggal 28
September 2015.
Eli,2013.Landasan Kurikulum Agama dan Filosofi. [online]Tersedia
di : http://elidrisy.blogspot.co.id/2013/10/landasan-kurikulum-agama-filosofis.html diakses pada tanggal 20 September 2015
Fandy.
(2014). Landasan Kurikulum dengan Agama.
[online] Tersedia .http://fandywari.blogspot.co.id/2014/11/landasan-kurikulum-dengan-agama.html
diakses pada tanggal 22 September 2015
Hayati. (2013).
Lembaga Pendidikan dan lemabaga Agama . [online] Tersedia di :http://chisehayatie.blogspot.co.id/2013/04/lembaga-pendidikan-dan-lembaga- agama.html diakses
pada tanggal 29 September 2015
Herman. (2013). Motivasi Belajar. [online]Tesedia di : http://zackeyhernandez.blogspot.co.id/2013/04/motivasi- belajar.html dikutip pada
tanggal 20 September 2015
Maria.
(2012). Pengembangan Kurikulum.[online]. Tersedia : http://mariamasihidup.blogspot.co.id diakses pada tanggal 11
Desember 2012)
Riza.
(2011).pengembangan kurikulum.[online].
Tersedia : https://rizagustia.wordpress.com diakses pada tanggal 4 maret 2011
Sugianto Ahmad. (2013). Landasan Antropologi Pendidikan.
[online]Tersedi di : http://akhmad- sugianto.blogspot.co.id/2013/09/landasan-antropologi-pendidikan_24.html
diakses pada tanggal 25 Septembe
2015
Sukri.
(2012).Antropologi.[Outline].Tersedia:
http://sukrigazali.blogspot.co.id/
.(28 September 2015).
Suryani.(2012).LandasanAntropologi.[Outline].Tersedia:http://suryani1993.blogspot.co.id/2012/12/landasan-antropologi.html.diakses pada tanggal 28 September
2015.
Yuli. (2012).Memahami Ibadah Mahdah dan Ghair Mhadah [online] tersedia di : http://mas- yuli.blogspot.co.id/2012/04/memahami-ibadah-mahdhah-dan-ghairu.html
diakses pada tanggal 29 september 2015